About

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, April 18, 2014

MAKALAH PEMBELAJARAN PENJASKES



KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas segala limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata kuliah ini tepat pada waktunya. Dan terimakasih Dosen pembimbing yang telah membimbing dalam penyusunan tugas ini.
Penulis menyadari  sepenuhnya bahwa dalam penyusunan tugas  ini tidak terlepas dari kekurangan, Oleh karena itu mohon kiranya kritik dan saran dari semua pihak yang sifatnya membangun guna kesempurnaan penyusunan tugas ini lebih lanjut.


Malang,                       2014

Penulis









DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................   I
KATA PENGANTAR................................................................................. II   
DAFTAR ISI................................................................................................ III
BAB I PENDAHULUAN............................................................................   1
Latar Belakang.............................................................................   1

BAB II KAJIAN PUSTAKA......................................................................  
2.1 Pengertian pendidikan jasmani.....................................................  
2.2 Tujuan pendidikan jasmani...........................................................  
2.3 Ruang lingkup pendidikan jasmani..............................................
2.4 Hakekat olahraga dan penjas........................................................
2.5 Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani.................................
2.6 Perbedaan makna pendidikan jasmani dan pendidkan olahraga..
2.7. Perumusan  materi  dalam pembelajaran penjasorkes................
BAB III PENUTUP.....................................................................................
3.1. Kesimpulan..........................................................................       

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pendidikan jasmani sebagai komponen pendidikan secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan. Namun, dalam pelaksanaannya pengajaran pendidikan jasmani berjalan belum efektif seperti yang diharapkan. Pembelajaran pendidikan jasmani cenderung tradisional.
Model pembelajaran pendidikan jasmani tidak harus terpusat pada guru tetap pada siswa. Orientasi pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan anak, isi dan urusan materi serta cara penyampaian harus disesuaikan sehingga menarik dan menyenangkan, sasaran pembelajaran ditujukan bukan hanya mengembangkan keterampilan olahraga, tetapi pada perkembangan pribadi anak seutuhnya. Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pengajaran pendidikan jasmani yang efektif perlu dipahami oleh mereka yang hendak mengajar pendidikan jasmani.
Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain. Konsep. Itu menyamakan pendidikan jasmani dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development).
Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogik.
Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Sudah barang tentu proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Bagaimanakah definisi pendidikan yang kita anut? Adanya perbedaan pengertian itu pendidikan jasmani dengan istilah-istilah lain seperti gerak badan, aktivitas fisik, kesegaran jasmani, dan olahraga hendaknya tidak menimbulkan polemik yang menyesatkan. Perbedaan pendapat itu sesuatu yang wajar, yang terpenting seseorang harus melakukan pembatasan pengertian yang dianut secara jelas dan konsisten apabila membicarakan atau menuliskan berbagai istilah itu sehingga tidak rancu.
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila. Secara eksplisit istilah pendidikan jasmani dibedakan dengan olahraga. Dalam arti sempit olahraga diidentikkan sebagai gerak badan. Olahraga ditilik dari asal katanya dari bahasa jawa olah yang berarti melatih diri dan rogo (raga) berarti badan. Secara luas olahraga dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau usaha untuk mendorong, membangkitkan, mengembangkan dan membina kekuatan-kekuatan jasmaniah maupun rokhaniah pada setiap manusia.
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani dan direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromoskuler, perseptual, kognitif, sosial dan
emosional.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian pendidikan jasmani
Pendidikan jasmani merupakan suatu proses seseorang sebagai individu maupun anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan dalam rangka memperoleh kemampuan dan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan, dan pembentukan watak
Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional.
Pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, karena dalam pendidikan jasmani menyediakan kesempatan untuk memperlihatkan mengembangan karakter. Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani biasanya dengan contoh atau perilaku. Pengajar tidak baik berkata kepada muridnya untuk memperlakukan orang lain secara adil kalau dia tidak memperlakukan muridnya secara adil.
Selain dari pada itu pendidikan jasmani dan olahraga begitu kaya akan pengalaman emosional. Aneka macam emosi terlibat di dalamnya. Kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga yang berakar pada permainan, ketrampilan dan ketangkasan memerlukan pengerahan energi untuk menghasilkan yang terbaik.
Pantas rasanya jika kita setuju untuk mengemukakan bahwa pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dasar atau alat pendidikan dalam membentuk manusia seutuhnya, dalam pengembangan kemampuan cognitif, afektif dan psikomotor yang behavior dalam membentuk kemampuan manusia yang berwatak dan bermoral.

2.2 Tujuan Pendidikan Jasmani
*      Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.
*      Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik.
*      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
*      Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
*      Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis.
*      Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
*      Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
*      Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan. eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
*      Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya
*      Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya
*      Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya
*      Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya
*      Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung
*      Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.
2.4 Hakekat olahraga dan penjas
Filsafat olahraga, seperti filsafat lainnya, dalam olahraga ada beberapa konsep yang perlu dikaji dan dipahami secara mendalam. Konsep ini bersifat abstrak yaitu ‘mental image’. Walau kita tahu bahwa konsep ini abstrak, tetapi didalam konsep ini ada makna tertentu, walau perbedaan makna pada setiap individu berbeda-beda tentang ini.
Konsep dasar tentang keolahragaan beragam, seperti bermain (play), Pendidikan jasmani (Physical education), olahraga (Sport), rekreasi (recreation), tari (dance).
Bermain (play) adalah fitrah manusia yang hakiki sebagai mahluk bermain (homo luden), bermain suatu kegiatan yang tidak berpretensi apa-apa.
Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat belum tercemar.
Dalam bermain terdapat unsur ketegangan, yang tidak lepas dari etika seperti semangat fair play yang sekaligus menguji ketangguhan, keberanian dan kejujuran pemain, walau tanpa wasitpun permainan anak-anak terlihat menyenangkan dan gembira ini merupakan bentuk permainan yang belum tercemar.
Dalam bermain pendidikan etika yang ada tidak mengenal pada suatu ajaran tertentu, karena anak bermain tidak melihat sisi religius teman dan bentuk permainan, karena tidak ada aturan dalam hal religus dalam bentuk permainan, pendidikan etika disini yang membetuk manusia yang baik dan kritis, sehingga proses pemberian pembelajarannya lebih bersifat mengembangkan daya pikir kritis dengan mengamati realitas kehidupan.
Seperti melihat harimau, maka anak akan meniru gaya harimau yang menerkam mangsa, simangsa sudah tentu adalah teman sepermainnya. Temannya akan berjuang mempertahankan dengan bergelut.
Bermain dalam alam anak memberikan konsep anak bertanggung jawab terhadap permainan tersebut. Ketika terjadi “perselisihan” maka tanggung jawab anak terhadap permainan ini membantu dalam pengembangan moralnya.
Olahraga (sport) yang merupakan kegiatan otot yang energik dan dalam kegiatan itu atlet memperagakan kemampuan geraknya (performa) dan kemauannya semaksimal mungkin, akan tetapi perkembangan teknologi memungkinkan faktor mesin menjadi techno-sport, seperti balap mobil, balap motor, yang banyak tergantung dengan faktor mesin.

2.5 Pengajaran etika dalam pendidikan jasmani
Kita telah menyadari bahwa pendidikan jasmani dan olahraga adalah laboratorium bagi pengalaman manusia, oleh sebab itu guru pendidikan jasmani harus mencoba mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak.
Karakter anak didik yang dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa Indonesia serta kepribadian utuh anak, selain harus dilakukan oleh setiap orangtua dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan pendidikan nilai di sekolah. Saran yang bisa diangkat yaitu :
*      Seluruh suasana dan iklim di sekolah sendirii sebagai lingkungan sosial terdekat yang setiap hari dihadapi, selain di keluarga dan masyarakat luas, perlu mencerminkan penghargaan nyata terhadap nilai-nilai, kemanusiaan yang mau diperkenalkan dan ditumbuhkembangkan penghayatannya dalam diri peserta didik. Misalnya, kalau sekolah ingin menanamkan nilai keadilan kepada para peserta didik, tetapi di lingkungan sekolah itu mereka terang-terangan menyaksikan berbagai bentuk ketidakadilan, maka di sekolah itu tidak tercipta iklim dan suasana yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai.
*      Tindakan nyata dan penghayatan hidup dari para pendidik atau sikap keteladanan mereka dalam menghayati nilai-nilai yang mereka ajarkan akan dapat secara instingtif mengimbas dan efektif berpengaruh pada peserta didik. Sebagai contoh, kalau guru sendiri memberi kesaksikan hidup sebagai pribadi yang selalu berdisiplin, maka kalau ia mengajarkan sikap dan nilai disiplin pada peserta didiknya, ia akan lebih disegani.
*      Semua pendidik di sekolah, terutama para guru pendidikan jasmani perlu jeli melihat peluang-peluang yang ada, baik secara kurikuler maupun non/ekstra kurikuler, untuk menyadarkan pentingnya sikap dan perilaku positif dalam hidup bersama dengan orang lain, baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam masyarakat. Misalnya sebelum pelajaran dimulai, guru menegaskan bila anak tidak mengikuti pelajaran karena membolos, maka nilai pelajaran akan dikurangi.
*      Secara kurikuler pendidikan nilai yang membentuk sikap dan perilaku positif juga bisa diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri, misalnya dengan pendidikan budi pekerti. Akan tetapi penulis tidak menyarankan untuk di lakukan.
*      Melalui pembinaan rohani siswa, melalui kegiatan pramuka, olahraga, organisasi, pelayanan sosial, karya wisata, lomba, kelompok studi, teater, dll. Dalam kegiatan-kegiatan tersebut para pembina melihat peluang dan kemampuannya menjalin komunikasi antar pribadi yang cukup mendalam dengan peserta didik.
Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh guru-guru penjas belakangan ini adalah : “Apakah pendidikan jasmani?” Pertanyaan yang cukup aneh ini justru dikemukakan oleh yang paling berhak menjawab pertanyaan tersebut.
Hal tersebut mungkin terjadi karena pada waktu sebelumnya guru itu merasa dirinya bukan sebagai guru penjas, melainkan guru pendidikan olahraga. Perubahan pandangan itu terjadi menyusul perubahan nama mata pelajaran wajib dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, dari mata pelajaran pendidikan olahraga dan kesehatan (orkes) dalam kurikulum 1984, menjadi pelajaran “pendidikan jasmani dan kesehatan” (penjaskes) dalam kurikulum1994.
Perubahan nama tersebut tidak dilengkapi dengan sumber belajar yang menjelaskan makna dan tujuan kedua istilah tersebut. Akibatnya sebagian besar guru menganggap bahwa perubahan nama itu tidak memiliki perbedaan, dan pelaksanaannya dianggap sama. Padahal muatan filosofis dari kedua istilah di atas sungguh berbeda, sehingga tujuannya pun berbeda pula. Pertanyaannya, apa bedanya pendidikan olahraga dengan pendidikan jasmani ?
Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan dan olahraga. Di dalamnya terkandung arti bahwa gerakan, permainan, atau cabang olahraga tertentu yang dipilih hanyalah alat untuk mendidik. Mendidik apa ? Paling tidak fokusnya pada keterampilan anak. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik, keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga keterampilan emosional dan sosial.
Karena itu, seluruh adegan pembelajaran dalam mempelajari gerak dan olahraga tadi lebih penting dari pada hasilnya. Dengan demikian, bagaimana guru memilih metode, melibatkan anak, berinteraksi dengan murid serta merangsang interaksi murid dengan murid lainnya, harus menjadi pertimbangan utama

2.7.    Perumusan  materi  dalam pembelajaran penjasorkes
untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator. Contoh: indikator: peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.  Materi pembelajarannya: ciri-ciri kehidupan: nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi ,iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.
Pembelajaran mengandung makna kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan matode/strategi yang optimal untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Metode dan strategi pembelajaran sering digunakan secara bergantian untuk menjelaskan makna yang sama. Terdapat 4 hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan pembelajaran, yaitu :
1.      Penjadwalan Penggunaan Strategi Pembelajaran
Penjadwalan penggunaan suatu strategi atau komponen suatu strategi, baik itu untuk strategi pengorganisasian pembelajaran maupun strategi penyampaian pembelajaran, merupakan bagian yang penting dalam pengelolaan pembelajaran. Penjadwalan pengorganisasian pembelajaran biasanya mencakup pertanyaan kapan dan berapa lama seorang siswa/mahasiswa menggunakan setiap komponen strategi pengorganiasasian, sedangkan penjadwalan strategi penyampaian biasanya melibatkan keputusan, seperti kapan dan untuk berpa lama seorang siswa/mahasiswa menggunakan jenis media.
2.       Pembuatan Catatan Kemajuan Belajar
Pembuatan catatan tentang kemajuan belajar siswa penting sekali bagi keperluan pengambilan keputusan-keputusan yang terkait dengan strategi pengelolaan. Keputusan apapun yang diambil harus didasarkan pada informasi yang lengkap mengenai kemajuan belajar siswa/mahasiswa. Keputusan memilih dan menggunakan suatu komponen strategi pengorganisasian juga sebaiknya didasarkan pada kemajuan belajara siswa/mahasiswa.
Catatan tentang kemajuan belajar siswa/mahasiswa juga diperlukan untuk mengambil keputusan mengenai perlu tidaknya siswa/mahasiswa tertentu diberikan strategi motivasional lanjutan.
 Kemajuan belajar siswa/mahasiswa biasanya juga dapat digunakan untuk menaksir keefektifan suatu strategi pembelajaran. Catatan tentang kemajuan belajar siswa/mahasiswa ini dapat digunakan sebagai informasi untuk mengambil keputusan mengenai perlu tidaknya ada perbaikan strategi pembelajaran (strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan). Taksiran yang tepat akan amat membantu pemilihan strategi pembelajaran yang optimal.
3.      Pengelolaan Motivasional
Bagian ini adalah merupakan bagian yang amat penting dari pengelolaan interaksi siswa/mahasiswa dengan pembelajaran. Kegunaannya adalah untuk meningkatkan dan sekaligus untuk mempertahankan motivasi belajar siswa/mahasiswa. Sebagian besar bidang studi sebenarnya memiliki daya tarik untuk dipelajari, namun pembelajaran gagal menggunakannya seabagai alat motivasional. Akibatnya bidang studi kehilangan daya tariknya, dan yang tinggal hanya kumpulan fakta, konsep, prosedur atau prinsip yang tidak bermakna.
Ada komponen-komponen strategi pembelajaran variable motivasional yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar suatu bidang studi. Penggunaan strategi pengorganisasian dan penyampaian pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa/mahasiswa dihipotesiskan memiliki pengaruh motivasional yang tinggi pada belajar siswa/mahasiswa.
4.      Kontrol Belajar
Kontrol belajar merupakan bagian penting untuk mempreskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. kegunaannya adalah untuk menetapkan agar pembelajaran benar-benar sesuai dengan karakteristik perseorangan. variabel ini mengacu pada kepada kebebasan siswa/mahasiswa melakukan pilihan pada bagian ini yang dipelajari, kecepatan belajar, komponen strategi pembelajaran yang dipakai, dan strategi kognitif (berpikir) yang digunakan.
Keempat aspek ini dapat member petunjuk bagaimana cara ,mengelola pembelajaran. Strategi pengelolaan yang berurusan dengan control belajar banyak terkait dengan aspek penjadwalan, misalnya kapan memilih bagian isi yang akan dipelajari sebaiknya diberikan kepada siswa/mahasiswa, bagian isi mana sebaiknya dipelajari terlebih dulu, dan bagaimana menata pembelajaran untuk siswa/mahasiswa yang termasuk kelompok cepat, sedang dan lambat dan sebagainya.
Pengaruh Karakteristik Dalam Menetapkan Strategi Pengelolaan
Faktor kondisional yang paling berpengaruh dalam menetapkan strategi pengelolaan adalah karakteristik siswa/mahasiswa. Karakteristik siswa/mahasiswa juga menjadi pertimbangan pokok dalam pengelolaan strategi penyampaian.




B.     Pemilihan  metode dalam pembelajaran penjasorkes
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan atau strategi yang dipilih. Karena itu pendekatan pembelajaran dan metode yang di integrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a.       Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, pembelajaran langsung, pemecahan masalah dsb.
b.      Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, observasi, tanya jawab dsb.
Strategi Penyampaian Isi Pembelajaran
Strategi penyampaian (delivery strategy) mengacu pada cara-cara yang dipakai untuk menyampaikan pembelajaran kepada siswa/mahasiswa dan sekaligus untuk menerima serta merespon masukan-masukan dari siswa/mahasiswa.
Secara lengkap ada 3 komponen yang perlu diperhartikan dalam mempreskripsikan strategi penyampaian, yaitu :
1.      Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah komponen strategi penyampaian yang dapat dimuati pesan yang akan disampaikan kepada siswa/mahasiswa, apakah itu orang, alat atau bahan.
2. Interaksi Siswa/mahasiswa Dengan Media
Komponen strategi penyampaian pembelajaran yang mengacu kepada kegiatan apa yang diakukan oleh siswa/mahasiswa dan bagaimana peranan media dalam merangsang kegiatan belajar itu.

3. Bentuk (Struktur) Belajar Mengajar
Komponen strategi pembelajaran yang mengacu kepada apakah siswa/mahasiswa belajar dalam kelompok kecil, perorangan, ataukah mandiri. Dalam menetapkan manakah yang lebih dahulu ditetapkan dari ketiganya, tidak ada deskripsi yang baku mengenai hal itu. Ketiganya harus dipertimbangkan secara serentak, dan titik awalnya dapat dimulai dari salah komponen. Bila dimulai dari media pembelajaran, maka bentuk belajar mengajar harus disesuaikan dengan media yang telah ditetapkan, dan akhirnya kegiatan belajar siswa/mahasiswapun harus dijabarkan dari kedua komponen ini. Bila diputuskan untuk memilih bentuk belajar-mengajar lebih dulu, maka kedua komponen harus menyesuaikan. Untuk membentuk suatu kesatuan stretegi penyampaian pembelajaran yang efektif, komponen apapun yang ditetapkan pertama kali harus berpijak pada tujuan khusus pembelajaran, karakteristik isi, karakteristik siswa/mahasiswa, serta kendala yang nyata ada.

C.    Organisasi  pembelajaran penjasorkes
Organisasi belajar atau organisasi pembelajaran adalah suatu konsep dimana organisasi dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self  learning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’ dalam merespon beragam perubahan yang muncul.
Pedler, Boydell dan Burgoyne mendefinisikan bahwa organisasi pembelajaran adalah “Sebuah organisasi yang memfasilitasi pembelajaran dari seluruh anggotanya dan secara terus menerus mentransformasikan diri”. • Menurut Lundberg (Dale, 2003) menyatakan bahwa pembelajaran adalah “suatu kegiatan bertujuan yang diarahkan pada pemerolehan dan pengembangan keterampilan dan pengetahuan serta aplikasinya”. • Menurut Sandra Kerka (1995) yang paling konseptual dari learning organization adalah asumsi bahwa ‘belajar itu penting’, berkelanjutan, dan lebih efektif ketika dibagikan dan bahwa setiap pengalaman adalah suatu kesempatan untuk belajar.
Strategi pengorganisasian isi pembelajaran tingkat makro oleh Reigeluth, Bunderssen, dan Merrill (1977) sebagai structural strategy, yang mengacu pada cara untuk membuat urutan (sequencing) dan mensintesis (synthesizing) fakta-fakta, konsep prosedur-prosedur, atau prinsip-prinsip yang berkaitan.
Langkah-langkah penataan isi pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Penyajian kerangka isi
Pembelajaran dimulai dengan penyajian kerangka isi, struktur yang memuat bagian-bagian yang paling penting dari isi/pesan yang akan diajarkan
2. Elaborasi tahap pertama
Elaborasi tahap pertama adalah mengelaborasi tiap-tiap bagian yang ada dalam kerangka isi, mulai dari bagian yang terpenting. Elaborasi tipa-tiap bagian diakhiri dengan rangkuman dan pensintesis yang hanya mencakup isi yang baru saja diajarkan.
3. Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal
Pada akhir elaborasi tahap pertama diberikan rangkuman dan diikuti dengan pensintesis eksternal. Rangkuman berisi pengertian-pengertian singkat mengenai konstruk-konstruk yang diajarkan dalam elaborasi, dan pensistesis eksternal menunjukkan :
a. Hubungan-hubungan penting yang ada antar bagian yang telah dielaborasi
b. Hubungan antara bagian-bagian yang telah dielaborasi dengan kerangka isi.
4. Elaborasi tahap kedua
Setelah elaborasi tahap pertama berakhir dan diintegrasikan dengan kerangka isi, pembelajaran diteruskan keelaborasi tahap kedua yang mengelaborasi bagian pada elaborasi tahap pertama dengan maksud membawa siswa/mahasiswa pada tingkat kedalaman sebagaimana ditetapkan dalam tujuan pembelajaran. Seperti halnya dalam elaborasi tahap pertama, setiap elaborasi tahap kedua disertai dengan rangkuman dan pensintesis internal.
5. Pemberian rangkuman dan pensintesis eksternal
Pada akhir elaborasi tahap kedua, diberikan rankuman dan pensintesis eksternal, seperti pada elaborasi tahap pertama.
6. Setelah semua elaborasi tahap kedua disajikan, disintesiskan, dan diintegrasikan ke dalam kerangka isi.
7. Pada tahap akhir pembelajaran, disajikan kembali kerangka isi untuk mensintesiskan keseluruhan isi bidang studi yang telah diajarkan.
Berikut ini adalah tahapan yang perlu dilewati dalam proses pengembangan penataan isi pembelajaran :
1. Menetapkan tipe struktur orientasi
2. Memilih dan menata isi ke dalam strukturnya
3. Menetapkan isi penting yang akan dimasukkan dalam kerangka isi
4. Mengidentifikasi dan menetapkan struktur pendukung
5. Menata urutan elaborasi
6. Merancang kerangka isi, tahapan elaborasi, dan pensintesis.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Olahraga bersifat netral dan umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga kompetitif, karena pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang resmi terorganisasi (formal) dan tidak resmi (informal).
Pendidikan jasmani pada dasarnya bersifat universal, berakar pada pandangan klasik tentang kesatuan erat antara “body and mind”, Pendidikan jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional
Perumusan  materi  dalam pembelajaran penjasorkes
untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator. Contoh: indikator: peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.  Materi pembelajarannya: ciri-ciri kehidupan: nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi ,iritabilitas, bernapas, dan ekskresi. Terdapat 4 hal yang menjadi urusan strategi pengelolaan pembelajaran, yaitu :
1.      Penjadwalan Penggunaan Strategi Pembelajaran
2.      Pembuatan Catatan Kemajuan Belajar
3.      Pengelolaan Motivasional
4.      Kontrol Belajar

2.      Pemilihan  metode dalam pembelajaran penjasorkes
3.      Organisasi  pembelajaran penjasorkes
Berikut ini adalah tahapan yang perlu dilewati dalam proses pengembangan penataan isi pembelajaran :
1. Menetapkan tipe struktur orientasi
2. Memilih dan menata isi ke dalam strukturnya
3. Menetapkan isi penting yang akan dimasukkan dalam kerangka isi
4. Mengidentifikasi dan menetapkan struktur pendukung
5. Menata urutan elaborasi
6. Merancang kerangka isi, tahapan elaborasi, dan pensintesis.
B.     Kritik dan Saran
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa banyaknya kekurangan, maka dari itu, penulis menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca dalam penyempurnaan makalah ini.


















DAFTAR PUSTAKA
Ikhwanuddin Syarif (ed). (2001) Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia baru,
70 tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed. Jakarta: Grasindo, 2001.
Rusli Lutan (ed)., (2001) Olahraga dan Etika Fair Play. Direktorat
Pemberdayaan IPTEK Olahraga, Dirjen OR, Depdiknas, Jakarta: CV.
Berdua Satutujuan.

Sutan Zanti dan Syahniar Syahrun, (1993) Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta:
Dirjeb Pend. Tinggi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_belajar












              


Wednesday, April 16, 2014

SURAT PERNYATAAN HUTANG PIUTANG KE KOPERASI

 SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini sebagai pihak pertama :

Nama        : NUR WAHYUNING
Alamat        : Dusun Lebo RT 25 RW 08 Ds madiredo Kecamtan Pujon
Saya Telah meminjam uang pada koperasi KSU TANI JAYA MAKMUR Sebesar Rp. 1.500.000 (satu Juta Limaratus Ribu Rupiah) dengan jaminan BPKB Sepeda Motor dengan spesifikasi sebagai berikut
NOPOL        : N 2933 BN
No Rangka    : MG8HBIDMABN800589
No Mesin    : HPO26246
Tahun         : 2003
Merk         : happy

Saya Siap dan sanggup untuk mengembalikan pinjaman tersebut dengan cara mengangsur selama (Sepuluh Bulan) Setiap Bulannya Saya sanggup membayar Rp. 240.000 (Dua ratus empat puluh ribu rupiah). Apabila terjadi keterlambatan angsuran yang saya sengaja (Dua sampai tiga bulan) Silahkan pihak dari koperasi mengambil jaminan tersebut.
Demikian Surat Pernyataan Ini saya buat yang sebenar-benarnya dan seterang terangnya, tidak ada unsur paksaan dari pihak manapun. sebelum kita tanda tangani sudah saya baca terlebih dahulu

                                                           Madiredo, 17 – 4- 2014
                     Saksi                                  yang bersangkutan



__________________                            WAHYUNING

Wednesday, April 9, 2014

ANALISA STRATIFIKASI SOSIAL

1.     STRATIFIKASI SOSIAL
1.1 . Pengertian Stratifikasi Sosial
     Stratifikasi Kata stratifikasi merupakan terjemahan dari stratification (bahasa inggris) yang bermakna lapisan. Kata stratification sendiri berasal dari bahasa latin ‘stratum’ atau strata yang bermakna lapisan. Stratifikasi juga digunakan untuk menunjukan kelas atau lapisan yang ada dalam masyarakat. Sedangkan secara terminologi, Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu kedalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, privelese, dan prestise.
1.2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Stratifikasi.
a)    Stratifikasi yang Terjadi dengan Sendirinya Bedasarkan .
1.    Age Statification Dalam stratifikasi berdasarkan usia ini, dimana anggota masyarakat yang berusia dini mendapatkan perbedaan hak dan kewajiban dari masyarakat yang berusia lebih tua. Bahkan dalam masyarakat tertentu, anak sulung mempunyai posisi yang lebih dibanding anak sulung.
2.     Senioritas Dalam pembahsan senioritas ini menyangkut usia dan jenjang lamanya pengalaman dalam masyarakat sosial tertentu. Dalam dunia kelembagaan misalnya, secara tidak langsung ada bagian-bagian kepemimpinan lembaga akan diisi oleh orang yang lebih tua atau berpengalaman luas.
3.     Sex Stratificaton Perbedaan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi perbedaan status, ini juga sangat dipengaruhi oleh tradisi dan ajaran harkat dan martabat pria dan wanita.
4.    Sistem Kekerabatan Pada umumnya dalam suatu kekerabatan terdapat perbedaan hak dan kewajiaban antara ayah, ibu, kakak, dan adik misalnya. Maka dari situ akan timbul status sosial yang berbeda-beda yang bersangkutan dengan hak dan kewajibannya.
b)    Stratifikasi yang Dibentuk untuk Tujuan Bersama.
1.    Stratifikasi dalam Pekerjaan. Dalam stratifkikasi ini sangat tampak pada instansi atau organisasi yang kelola secara modern. Misalnya saja ada bos dengan bawahan, dosen dengan asisten dosen, dan lain sebagainya.
2.     Stratifikasi dalam Bidang Ekonomi. Dalam hal ekonomi inilah stratifikasi sangat menonjol di setiap masyarakat. Sebab kebanyakan dari masyarakat dimanapun berada menganggap akan terjadinya pembedaan stratifikasi sosial berdasarkan kekayaan dan material.
3.    Stratifikasi dalam Pendidikan. Bagi orang yang mampu menyelesaikan pendidikan formalnya hingga tuntas, maka akan mendapat hak dan kewajiban yang lebih beragam dibandingkan denganorang yang hanya menamatkan pendidikannya ditingkat dasar. Dan dari situlah akan menentukan kelas sosial yang mereka tempati.
1.3. Macam-Macam / Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial.
A.    Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi tertutup adalah stratifikasi di mana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah ke strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah. Contoh stratifikasi sosial tertutup yaitu seperti sistem kasta di India dan Bali serta di Jawa ada golongan darah biru dan golongan rakyat biasa. Tidak mungkin anak keturunan orang biasa seperti petani miskin bisa menjadi keturunan ningrat /bangsawan darah biru.
B.    Stratifikasi Sosial Terbuka
Stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi di mana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata / tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain. Misalnya seperti tingkat pendidikan, kekayaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya


II.    ANALISIS STRATIFIKASI SOSIAL DI DESA WIYUREJO
Di bawah ini adalah analisa penulis mengenai stratifiksi yang ada di Desa wiyurejo RT.18 RW.07 dengan mayoritas mata pencaharian sebagai petani dan peternak sapi perah. Berdasarkan penelitian ini, maka penulis menentukan untuk memilih penelitian ini dari segi obyektifitasnya, yakni menggolongkan masyarakat Desa Wiyurejo berdasarkan 3 (tiga) lapisan:
1.    Lapisan atas (Upper class).
Kelas ini ditempati oleh Kyai, Orang kaya yang meliputi petani apel, Juragan sayur,dan para pejabat Desa (lurah dan Carik).
2.    Lapisan Menengah (Middle Class).
Kelas ini meliputi Guru, Perangkat Desa, Petani sayur, Peternak sapi perah, Pedagang, Kuli bangunan.
3.    Lapisan bawah (Lower Class).
Kelas ini terdiri atas buruh tani, pembantu rumah tangga, kuli pasar, pegawai toko,

Berdasarkan  penelitian yang kami lakukan, sifat lapisan masyarakat Desa Wiyurejo mempunyai sifat lapisan terbuka. Yaitu setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan bahkan karena disebabkan sesuatu hal, seseorang bisa berpindah kelapisan bawah, dalam hal ini penulis akan memaparkan beberapa kasus yang terjadi di desa Wiyurejo ini:
a.     Akhir-akhir ini, ada beberapa petani sayur ( dari kelas menengah ) yang berubah  menjadi kaya dikarenakan harga sayur naik secara drastic (Wortel  ± 8000 per kilo), sehingga menyebabkan mereka berpindah ke lapisan atas dengan sendirinya. Hal ini juga mempengaruhi perilaku  mereka seolah –olah  terkena syndrome kaya mendadak, hal itu bisa di lihat dari gaya berpakaian yang glamour, membeli motor gede dan berlomba untuk membuat rumah mewah.
b.     Ada juga kejadian tiga sapi perah milik seorang  warga mendadak mati karena memakan rumput yang terkena racun pestisida. Hal ini juga menyebabkan seseorang yang asalnya berada di lapisan atas berubah ke lapisan bawah di karenakan mata pencaharian yang berupa hewan ternak mati secara mendadak. Mata pencarian satu-satunya harus hilang sehingga menyebabkan orang tersebut harus beralih profesi menjadi buruh tani.
c.    Ada satu kejadian yang mengenaskan yang menimpa salah satu keluarga, setelah menghasilkan panen wortel dengan nilai puluhan juta, orang tersebut membelikan anaknya sepeda motor yang harganya  sangat fantastis. Karena memilki sepeda motor baru dan mewah , gengsi sang anakpun juga semakin tinggi. Dia pergi berboncengan dengan pacarnya, bersenang-senang dan berhura-hura,dan dalam perjalanan pulang serta dalam kondisi mabuk terjadilah kecelakaan yang merenggut nyawa dua orang anak tersebut, motornyapun hancur total. Baru sehari merasakan motor baru, ternyata sang anak harus mati dengan keadaan yang demikian.
d.    Ternyata masyarakat di Desa ini sering kehilangan hasil dari pertaniannya seperti Apel, cabe rawit, bawang merah dan lain sebagainya disebabkan oleh perilaku seseoarang yang yang  tidak memiliki lahan pertanian, peternakan dan didukung oleh pendidikan yang rendah.
Dari analisa beberapa kasus tersebut penulis memperoleh kesimpulan bahwa mayoritas petani di desa Wiyurejo ini adalah orang kaya dan ukuran kekayaanlah yang dominan menjadikan seseorang berada di lapisan atas (upper class). Tetapi untuk menjadi kaya, seseorang harus memiliki kesiapan mental agar tidak terjadi perubahan perilaku kearah yang negative seperti sembrono, sombong, semena-mena, dsb.
 Bagi yang memiliki keterbatasan dalam hal materi, pendidikan dan ketrampilan , nampaknya kondisi tersebut secara psikologis membuat tekanan mental dan menjadikan perilaku mereka kearah kejahatan. Untuk itu bekal IPTEK dan IMTAQ sangat diperlukan baik untuk golongan yang kaya maupun golongan yang miskin agar terjadi keseimbangan antara kondisi sosial masyarakat dengan perilaku mereka yang positif sehingga timbul persamaan derajat diantara kelas-kelas yang ada di masyarakat, karena orang yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa.

ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﻋَﻠِﻴﻢاﻟﻠﱠﻪإِن ۚ ﺗْﻘَﺎﻛُﻢأَ اﻟﻠﱠﻪﻋِﻨْﺪﻛْﺮَﻣَﻜُﻢأَإِن

TABEL HASIL PENELITIAN DI DESA WIYUREJO RT.18 RW.07

No    kelas    kelompok    Aspek pembentuk    perilaku
1    upper    1.    Kyai
2.    Petani Apel
3.    Juragan sayur
4.    Pejabat Desa    ⦁    Penasehat
⦁    Besarnya Kekayaan
⦁    Tingginya kekuasaan    Akademis, Lebih di hormati, interaksi sosialnya terbatas hanya pada kelasnya
2    middle    1.    guru
2.    Perangkat Desa
3.    Petani sayur
4.    Peternak
5.    Pedagang
6.    Kuli bangunan    ⦁    Keilmuwan
⦁    Standart kekayaan    Sederhana, fleksibel, bebas berinteraksi, lebih bisa menghargai orang lain.
3    Lower    1.    Buruh tani
2.    Pembantu Rumah Tangga
3.    Kuli pasar    ⦁    Minimnya ilmu Pengetahuan
⦁    Minimnya Kekayaan    Berfikir sempit, Kurang dihormati karena dianggap kurang memiliki peranan






Friday, April 4, 2014

JUARA INDONESIAN IDOL 2014

Setelah melihat tujuh besar indonesian idol 2014 pada 4 April 2014, dengan mendapatkan dua kontestan yang berada di bottom two yaitu Windi dan Yuka dan akhirnya Indonesia memilih Windy untuk berhenti sampai tujuh besar saja. meski dewanjuri disuruh memberikan hak vetonya tetapi ke empat juri tidak mau menggunakannya hanya Titi DJ saja yang mau menggunakannya Titi sangat menyayangkan hal ini, karena Windi dinilai cukup memiliki kemampuan yang hebat tetapi suara untuk veto hanya satu dan itu artinya Titi kalah dan tidak bisa menyelamatkan Windi. memang sebuah pilihan yang sulit dan bagaimanapun harus ada yang pulang.

Jadi Selama menonton Indonesian Idol saya memprediksikan bahwa yang akan menjadi juara indonesian Idol 2014 adalah Nowela. Ia memiliki Uranium Voice yang sangat memukau dewan juri dan Indonesia. Setelah saya memprediksi hal ini, ternyata Ahmad Dhani dan Agnes Monica juga memprediksikan Nowela sebagai Juaranya. wah, Jadi semakin kuat saja prediksi ini.

Kita tunggu saja hasil akhir dari Indonesian Idol 2014, Siapa juaranya?.